Lanjutan Aksara Cinta

Setiap rintik hujan adalah bahasa dari puisi yang dibawa angin, puisi yang membawamu pada kesejukan paling sejuk dan tingkat kegelisahan paling pucuk. Lihatlah....... rintik hujan semakin banyak merebak mengelilingi persinggahanmu, maka kali ini semua terserah dari masing-masing perasaan kita, akan memeluk kenangan dengan khidmat atau membiarkannya memburai jatuh seperti tetes-tetes hujan, jatuh keperut bumi.

Aku memutuskan untuk meninggalkanmu yang berada dibalik jendela, kali ini sungguh-sungguh akan belajar mengacuhkanmu lebih kejam, halusinasi-halusinasi sebagai pembodohan cinta yang mengatasnamakan wujudmu perlahan kuhapus, kupupus. Sebisa mungkin.

Aku membuka diary kecil berwarna biru, tempat para aksara bertumpuk berpadu, tentang haru, pilu, syahdu dan sendu, aksara tertoreh dibuku itu.

Aku mencintaimu dan tidak harus mencintaimu lagi
Angin ribut, pohon bermusuhan, bintang redup
Mengapa epilog kisah tentangku dan tentangmu adalah abu
Aku mencintaimu dan tidak harus mencintaimu lagi
keragu-raguan yang ditanam kala hujan
ketidakjujuran dan basa-basi yang basi
membaur dalam keranjang, sebut saja cinta
Aku mencintaimu dan tidak harus mencintaimu lagi
aku tak mengerti ..... 


Kelak kau akan tahu, aksara cinta yang menuntut setia memberkati kita adalah do'a-do'a yang kau abaikan.


Aksara Cinta

Kepada aksara yang dengannya aku tak pernah tahu malu menceritakan hal sememprihatinkan apapun,

Sore kemarin saat biru langit meredup, rintik hujan pertama jatuh tepat dilenganku, aku berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya, meninggalkan bayanganmu lebih jauh. Aku sudah bosan menemui gigil sendirian, lelaguanku sudah habis kudendangkan, namun kau jua yang menyarankan waktu agar aku menyerah pada keadaan paling rapuh setelah habis-habisan mencintaimu.
Kuselimutkan handuk pada tubuh yang belum terlanjur basah, menyeduh secangkir teh hangat dan mereguknya lamat-lamat, beruntung  aku tepat waktu sampai rumah sebelum menyaksikan hujan begitu derasnya menjuntai dari langit ke bumi, menawarkan sejuta gelisah. Dari balik jendela kulihat bibirmu mengikuti gerakan bibirku meniupi secangkir teh hangat yang kubuat, halusinasi apa ini ?
Gemericik hujan,  ....


( bersambung )



OGUT


Kali ini aku yang akan memelukmu lebih erat
mengukir aksara dari kelakar pelangi tujuh warna
bersajak tentangku, tentangmu
dari balik kelambu duri
yang dicaci


Bahwa cinta akan selalu seperti ini, Ogut
Kangen yang membuncah disepanjang hujan
Pun kemarau, merengek membentuk jalan abstrak
Menuju Ksatria berkuda pembawa sebait sajak


Ogut, ia mengerti
Dua puluh bahkan ratusan orang tak memberi restu
Sebab cinta menerjemahkan rasa
yang tak mereka punya


Ogut diam dan tetap mencintaimu, sayang
jemari malam yang mencakar atap kamarnya lelah sendiri
Pergi pada yang tak tau arti, menanti.



Jakarta, April 2015  

SHORT MESSAGE SERVICE


Apa yang salah ketika aku menjadi segila ini mencintaimu ? Aku gila, entahlah....

Gerimis jatuh tepat setelah pintu kost ku buka, beruntung sekali tak mendapati hujan menyerbu tubuhku yang kering menahan rindu. Ku hempaskan tubuh kekasur, kepalaku terasa lebih ringan dari biasanya, apa karena masih mengingat betapa aku tergelak menertawai seorang teman yang salah menggandeng orang di sebuah toko. Aku sampai menepuk-nepuk bahunya membantu menebalkan kulit wajahnya agar tak merasakan malu. Sampai di kamar kost aku masih tertawa sendiri “lah ko bisa orang sebeda itu dianggap sama “ mungkin dia kekurangan cairan isotonik yang mirip dengan cairan tubuh itu.

“ Triiiing “

Hape-ku berbunyi, aku tahu itu pesan masuk dan entah kenapa kali ini aku tak bersemangat melihatnya, karena yang terjadi ketika aku semangat mendapati ada pesan masuk adalah kekecewaan, -Ya kekecewaan karena  operator celuler selalu lebih pengertian dari siapapun yang bisa setiap hari mengabariku. Dengan malas ku raih Hape-ku menyentuhnya kekanan kekiri keatas dan kebawah saking pintarnya sang Hape, lebih pintar dariku yang hanya pandai merindukanmu.

“ Apa Kabar ? “

Kudapati pesan singkat itu dilayar Hape-ku, aku bangkit. Bahkan aku rindu ditanyai kabar karena hampir setiap hari yang kulakukan ketika membuka Hape yang notabene alat komunikasi adalah untuk bermain games. Oh....

“ Baik, maaf siapa yah ? “ ku jawab singkat dengan pertanyaan balik, karena nomer pengirim sms tidak kukenal.

“ Triiing “

“ Rendra”

JLEB, seketika itu aku hening menatap layar Hape-ku. Antara bahagia dan sedih, antara berharap dan rasa ingin mati. Aku baca lagi tulisannya masih sama, takut-takut salah baca ku ulang lagi membuka smsnya, dan masih sama.

Seperti di bom, hatiku mendadak lebur berada di perbatasan seperti yang ingin kembali dan ingin pergi. Cukup lama kubiarkan Hape-ku sunyi lagi membiarkan imajinasiku menggambar lebih banyak dikanvas yang rindu diwarnai. “ Apa mungkin dia merindukanku ? “

“ Triiing “

SMS lagi, dengan perasaan galau yang tercipta sendiri kubuka Hape-ku, dan kali ini SMS dari operator celuler, dan kali ini pula mungkin harapan muluk-muluk tentang balasan rindu itu hanya milikku, -Iya aku saja yang kege’eran, aku saja yang terlalu berlebihan menafsirkan SMS yang hanya berisi pertanyaan kabar itu. Kuhempaskan lagi tubuhku ke kasur. Kuambil Hape-ku tanpa membalas pesan dari Rendra, kuputar sebuah lagu favoritku, lirik lagu kesepian dari dygta sampai keperasaan terjauh.

Entah aku yang terlalu meresapi lagu itu atau kantung mataku memang sudah berat menggendong air mata sehingga ia harus tumpah saat ini. Aku gila, kerinduan itu mencabik-cabik. Aku diam-diam sesenggukan. Lagu itu masih terdengar begitu galau.

Rendra, sampai detik ini aku masih yakin bahwa kau bukanlah satu-satunya makhluk Tuhan yang begitu indah mampu memanjakanku, dulu.  Bahwa kerinduan padamu hanyalah kerinduan yang kubuat-buat karena tak kunjung mampu menemukan sosok sepertimu. Karena tangis yang selalu karenamu adalah tangis penyesalan karena telah menjatuh cintaimu, maka kau layak memanggilku bodoh, Rendra. Aku terlalu bodoh hingga aku tak tahu bagaimana caranya menghapus namamu.

Rendra, bahkan aku tak pernah ingin kau datang walau hanya untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar selayaknya kita teman. Aku tak mau berteman denganmu lagi, Rendra. Aku takut menjatuh cintaimu kembali. Sementara cintaku masih belum habis untukmu, kau pergi. Aku tak sempat menanyakan kau kemana, aku tak pernah sempat menanyakan kau sedang apa dan dengan siapa, semua telah kau jawab pelan-pelan Rendra, sembari meremuk redamkan hatiku.

Rendra, bahwa saat ini masih tak ada cinta selain cintamu, aku hilang arah. Aku tak pernah tau dipelabuhan mana aku harus berhenti dan membangun cinta lagi, cintamu dulu sudah lebih dari cukup, mesti bangunannya sudah tak kokoh, bahkan hanya tinggal sebuah menara kecil yang bertahan, masih kusebut itu cinta, Rendra. Dan aku tak pernah tahu bagaimana jika kau datang dan membangunnya lagi, itu takan sama, jelas takan sama.

Rendra, maka biarkan aku melangkah meninggalkan cermin yang setiap aku mengaca bayangannya adalah kamu.

Rendra, aku juga ingin tenang.... Cintaku begitu dalam pun sampai kau meninggalkan. Aku akan selalu mencintaimu Rendra, sampai akhir hayatku, sampai mataku tak mampu kututup sendiri.

Rendra, aku mungkin takan pernah menemukan sosok yang sepertimu setidaknya kelak sosok yang bukan kau itu cukup membuatku nyaman hidup dan berkehidupan dengannya dan anak-anakku kelak.

KEPADA ABANG

Yang hujannya turun dari langit dan puncak gunung-gunung, dibangun dengan sekuat ketulusan menyerupai angsa didanau
malam ini, kulihat raut wajah berkerut makin pilu
dengan segudang bimbang yang kau sembunyikan dilemari
abang masih pandai bercerita, tentang mimpi dan ideologi
laksana petir menyambar menghempaskan ribuan listrik dari ketajaman matamu, abang
datang memborgol diri 
Ia berkisah : sebab cinta adalah ironi

Sabar abang,
cinta selalu mengerti jalan
cinta selalu memahami keadaan
cinta selalu memaafkan


Sekarang abang diam
menatap langit lebih kejam
seumpama ada harapan
ia ingin perdamaian
Katanya !!!!

2015

THIS MY MOMENT MAMEN .....

Selalu ada momet istimewa saat bersama sahabat, beban mampu kutinggalkan, mimpi bisa kutunda, lara bisa kurapuhkan karena bersama sahabat hanya akan ada gelak tawa yang selalu akan dirindukan. LOVE YOU SO MUCH FRIENDS !!!!!








Terimakasih
Karena sekuntum tawa meredam segala
tentang cinta : sahabat tak pernah binasa

2015