Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenku. Tampilkan semua postingan

Lanjutan Aksara Cinta

Setiap rintik hujan adalah bahasa dari puisi yang dibawa angin, puisi yang membawamu pada kesejukan paling sejuk dan tingkat kegelisahan paling pucuk. Lihatlah....... rintik hujan semakin banyak merebak mengelilingi persinggahanmu, maka kali ini semua terserah dari masing-masing perasaan kita, akan memeluk kenangan dengan khidmat atau membiarkannya memburai jatuh seperti tetes-tetes hujan, jatuh keperut bumi.

Aku memutuskan untuk meninggalkanmu yang berada dibalik jendela, kali ini sungguh-sungguh akan belajar mengacuhkanmu lebih kejam, halusinasi-halusinasi sebagai pembodohan cinta yang mengatasnamakan wujudmu perlahan kuhapus, kupupus. Sebisa mungkin.

Aku membuka diary kecil berwarna biru, tempat para aksara bertumpuk berpadu, tentang haru, pilu, syahdu dan sendu, aksara tertoreh dibuku itu.

Aku mencintaimu dan tidak harus mencintaimu lagi
Angin ribut, pohon bermusuhan, bintang redup
Mengapa epilog kisah tentangku dan tentangmu adalah abu
Aku mencintaimu dan tidak harus mencintaimu lagi
keragu-raguan yang ditanam kala hujan
ketidakjujuran dan basa-basi yang basi
membaur dalam keranjang, sebut saja cinta
Aku mencintaimu dan tidak harus mencintaimu lagi
aku tak mengerti ..... 


Kelak kau akan tahu, aksara cinta yang menuntut setia memberkati kita adalah do'a-do'a yang kau abaikan.


Aksara Cinta

Kepada aksara yang dengannya aku tak pernah tahu malu menceritakan hal sememprihatinkan apapun,

Sore kemarin saat biru langit meredup, rintik hujan pertama jatuh tepat dilenganku, aku berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya, meninggalkan bayanganmu lebih jauh. Aku sudah bosan menemui gigil sendirian, lelaguanku sudah habis kudendangkan, namun kau jua yang menyarankan waktu agar aku menyerah pada keadaan paling rapuh setelah habis-habisan mencintaimu.
Kuselimutkan handuk pada tubuh yang belum terlanjur basah, menyeduh secangkir teh hangat dan mereguknya lamat-lamat, beruntung  aku tepat waktu sampai rumah sebelum menyaksikan hujan begitu derasnya menjuntai dari langit ke bumi, menawarkan sejuta gelisah. Dari balik jendela kulihat bibirmu mengikuti gerakan bibirku meniupi secangkir teh hangat yang kubuat, halusinasi apa ini ?
Gemericik hujan,  ....


( bersambung )



SHORT MESSAGE SERVICE


Apa yang salah ketika aku menjadi segila ini mencintaimu ? Aku gila, entahlah....

Gerimis jatuh tepat setelah pintu kost ku buka, beruntung sekali tak mendapati hujan menyerbu tubuhku yang kering menahan rindu. Ku hempaskan tubuh kekasur, kepalaku terasa lebih ringan dari biasanya, apa karena masih mengingat betapa aku tergelak menertawai seorang teman yang salah menggandeng orang di sebuah toko. Aku sampai menepuk-nepuk bahunya membantu menebalkan kulit wajahnya agar tak merasakan malu. Sampai di kamar kost aku masih tertawa sendiri “lah ko bisa orang sebeda itu dianggap sama “ mungkin dia kekurangan cairan isotonik yang mirip dengan cairan tubuh itu.

“ Triiiing “

Hape-ku berbunyi, aku tahu itu pesan masuk dan entah kenapa kali ini aku tak bersemangat melihatnya, karena yang terjadi ketika aku semangat mendapati ada pesan masuk adalah kekecewaan, -Ya kekecewaan karena  operator celuler selalu lebih pengertian dari siapapun yang bisa setiap hari mengabariku. Dengan malas ku raih Hape-ku menyentuhnya kekanan kekiri keatas dan kebawah saking pintarnya sang Hape, lebih pintar dariku yang hanya pandai merindukanmu.

“ Apa Kabar ? “

Kudapati pesan singkat itu dilayar Hape-ku, aku bangkit. Bahkan aku rindu ditanyai kabar karena hampir setiap hari yang kulakukan ketika membuka Hape yang notabene alat komunikasi adalah untuk bermain games. Oh....

“ Baik, maaf siapa yah ? “ ku jawab singkat dengan pertanyaan balik, karena nomer pengirim sms tidak kukenal.

“ Triiing “

“ Rendra”

JLEB, seketika itu aku hening menatap layar Hape-ku. Antara bahagia dan sedih, antara berharap dan rasa ingin mati. Aku baca lagi tulisannya masih sama, takut-takut salah baca ku ulang lagi membuka smsnya, dan masih sama.

Seperti di bom, hatiku mendadak lebur berada di perbatasan seperti yang ingin kembali dan ingin pergi. Cukup lama kubiarkan Hape-ku sunyi lagi membiarkan imajinasiku menggambar lebih banyak dikanvas yang rindu diwarnai. “ Apa mungkin dia merindukanku ? “

“ Triiing “

SMS lagi, dengan perasaan galau yang tercipta sendiri kubuka Hape-ku, dan kali ini SMS dari operator celuler, dan kali ini pula mungkin harapan muluk-muluk tentang balasan rindu itu hanya milikku, -Iya aku saja yang kege’eran, aku saja yang terlalu berlebihan menafsirkan SMS yang hanya berisi pertanyaan kabar itu. Kuhempaskan lagi tubuhku ke kasur. Kuambil Hape-ku tanpa membalas pesan dari Rendra, kuputar sebuah lagu favoritku, lirik lagu kesepian dari dygta sampai keperasaan terjauh.

Entah aku yang terlalu meresapi lagu itu atau kantung mataku memang sudah berat menggendong air mata sehingga ia harus tumpah saat ini. Aku gila, kerinduan itu mencabik-cabik. Aku diam-diam sesenggukan. Lagu itu masih terdengar begitu galau.

Rendra, sampai detik ini aku masih yakin bahwa kau bukanlah satu-satunya makhluk Tuhan yang begitu indah mampu memanjakanku, dulu.  Bahwa kerinduan padamu hanyalah kerinduan yang kubuat-buat karena tak kunjung mampu menemukan sosok sepertimu. Karena tangis yang selalu karenamu adalah tangis penyesalan karena telah menjatuh cintaimu, maka kau layak memanggilku bodoh, Rendra. Aku terlalu bodoh hingga aku tak tahu bagaimana caranya menghapus namamu.

Rendra, bahkan aku tak pernah ingin kau datang walau hanya untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar selayaknya kita teman. Aku tak mau berteman denganmu lagi, Rendra. Aku takut menjatuh cintaimu kembali. Sementara cintaku masih belum habis untukmu, kau pergi. Aku tak sempat menanyakan kau kemana, aku tak pernah sempat menanyakan kau sedang apa dan dengan siapa, semua telah kau jawab pelan-pelan Rendra, sembari meremuk redamkan hatiku.

Rendra, bahwa saat ini masih tak ada cinta selain cintamu, aku hilang arah. Aku tak pernah tau dipelabuhan mana aku harus berhenti dan membangun cinta lagi, cintamu dulu sudah lebih dari cukup, mesti bangunannya sudah tak kokoh, bahkan hanya tinggal sebuah menara kecil yang bertahan, masih kusebut itu cinta, Rendra. Dan aku tak pernah tahu bagaimana jika kau datang dan membangunnya lagi, itu takan sama, jelas takan sama.

Rendra, maka biarkan aku melangkah meninggalkan cermin yang setiap aku mengaca bayangannya adalah kamu.

Rendra, aku juga ingin tenang.... Cintaku begitu dalam pun sampai kau meninggalkan. Aku akan selalu mencintaimu Rendra, sampai akhir hayatku, sampai mataku tak mampu kututup sendiri.

Rendra, aku mungkin takan pernah menemukan sosok yang sepertimu setidaknya kelak sosok yang bukan kau itu cukup membuatku nyaman hidup dan berkehidupan dengannya dan anak-anakku kelak.

SILENT LOVE

Jika hati diciptakan untuk merasakan cinta, mengapa selalu harus ada kecewa disetiap perjalanannya.
Jika hati diciptakan untuk merasakan cinta, mengapa tercipta diam untuk menyembunyikan apa yang ada.
Bukankah cinta sebuah rasa yang sempurna, kenapa tak pernah ada tawa bersamanya.
Aku diam, cintaku hilang

          Selepas isya entah dari pintu mana sahabatku tiba-tiba merebahkan tubuhnya di kasur yang sama sepertiku, aku yang merebah masih dalam keadaan mengenakan mukena sontak membelalakan mata, bukan karena kaget tetapi sahabatku yang satu ini selalu saja serba tiba-tiba, ia layak disebut jelangkung datang tak dijemput pulang tak diantar. Itulah ia, tiba-tiba disampingku tapi ketika aku beranjak ke dapur untuk membuatkannya minuman ketika kembali ia sudah tak ada, maka selalu akan ada pesan singkat di handphoneku, “ aku buru-buru ada pertemuan dengan komunitas manjat “ maka aku tak akan memarahinya ketika ia telah memberikan kabar demikian, ah hijaber doyan manjat itu selalu menyebalkan.
          “ Siapa ? “ kata Ririn, sahabatku
          “ Apanya yang siapa ? “ jawabku tak mengerti
          Ririn hanya mengerlingkan matanya dan meletakan tangannya di dada kirinya, ah aku mulai tahu apa yang ia maksud. Kenapa Ririn tahu apa yang tengah aku fikirkan, sejak kapan ia mulai belajar membaca fikiran seseorang, aku hanya menggeleng menjawab apa yang ia siratkan.
          “ Apakah cinta sediam ini Pril, kau tahu bahwa hanya pelangilah yang mampu indah meski ia hanya diam “ kata sahabatku itu, dan sekali lagi selalu menyebalkan.
          “ Masa ? ada yang lain kok “ aku mengelak
          “ Ari ? “ hijaber satu itu memang sangat blak-blakan
          Aku hanya diam mendengar nama itu disebut. Ririn seperti mampu membaca segala apa yang ada dalam diriku. Aku tak menanggapi ucapannya, bangkit membuka dan melipat kembali mukena yang kupakai.
          Waktu beberapa menit kosong, aku hanya memandangi dinding bergambar wajah Ari hasil lukisan imajinasiku, sementara Ririn, Ia masih merebah memandangi langit-langit kamarku.
          “ Ehem “ Ririn berdehem, kali ini ia benar-benar mengagetkanku.
          “ Rin .... “ sahutku sembari menarik lengannya
          “ Iya “ Ririn menjawab cepat, seolah mengerti bahwa aku telah siap menceritakan sesuatu.
          “ Manusia mungkin tak pernah ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Alloh semata, tapi apakah salah jika kita mengharapkan seseorang yang sempurna untuk menemani hidup kita ? bukan sempurna mungkin, tapi kearah sempurna, bagiku yang berjalan kearah sempurna itu yang jelas ku tahu saat ini memang Ari, tapi Rin kenapa dibalik kesempurnaan yang kulihat dalam diri Ari, disitulah aku menemukan ketidakpantasanku untuk bersamanya. Yang lebih sulit lagi kali ini aku benar-benar merasa hambar, selain aku merasa tak pantas bagi Ari, tapi aku juga belum mampu mencintai orang lain selain dia Rin, aku bingung “ mataku berkaca-kaca menceritakan hal itu pada Ririn, kali ini aku semakin pasrah. Ia, Ririn mungkin akan membodoh-bodohkanku kenapa baru sekarang aku jujur.
          “ Satu, kamu bodoh kenapa selama ini hanya diam. Dua, aku salut karena kau bisa membuat cinta sediam ini, yang pasti ada alasan Tuhan membuatmu berfikir untuk bungkam saja Pril, mungkin Tuhan ingin kau menjaga hatimu dahulu saja sebelum benar-benar Tuhan menakdirkan yang terbaik buatmu, atau mungkin Tuhan membuat kau berfikir untuk diam saja karena akan menunjukan sesuatu, sesuatu dan sesuatu yang lain terhadapmu, sebelum kau berfikir untuk membicarakannya. “
          Ririn memelukku, aku juga erat memeluknya bahkan sempat meneteskan beberapa bulir air mata, tak ingin Ririn melihat aku buru-buru menghapusnya.
          “ Jika kamu hanya diam, kau mungkin tak pernah akan tahu apakah cinta sama-sama berjalan dengan indah atau tidak, bahkan jika kau terus diam mungkin Ari akan jauh menghilang dari hidupmu, maka akan tercipta luka di penantianmu Pril, seberapa lama lagi kau akan diam dan menunggu Pril ? tapi jika kau sendiri tahu bahwa kau diam dan Tuhan meridhoi kediamanmu, lanjutkan Pril lanjutkan biar cintamu dan cinta pada Tuhan tak terbagi sebelum pernikahan itu terjadi. “
          Ririn bergegas pergi setelah perlahan membuat sebagian hatiku remuk jua, namun Ririn ialah sahabatku yang tulus. Aku memandangi bekas langkahnya meninggalkanku.
            Ari, aku mencintaimu
            Tapi mungkin Tuhan benar, aku harus diam
            Meski akan ada luka dan kecewa


Perempuan-Perempuan Berpayung Langit

Perempuan hidup bermata cinta
Mengemban cinta
Dan berhati saja
Perempuan hidup atas cinta
Setia, dalam cinta
Dan pergi karena cinta
Jangan bohongi perempuan
Jika tak ingin dunia terluka
Awan menggelembung hitam melebar di langit, hujan mulai merintik di sudut-sudut kota.
            “ Mak….. Mamak, plastiknya habis Mak, sudah mulai gerimis ini Mak “ Teriak Nani Pertiwi, seorang gadis berusia tiga belas tahun.
            “ Masih ada tiga lembar lagi diatas meja Nan, itu buat menutupi baju seragam sekolahmu dan Nia biar tidak kebasahan terciprat air hujan “ Jawab Mamak santai sembari membuat sambal di pojok rumah. Nia dan adik bungsunya Neli sibuk memperhatikan Mamaknya.
Kemudian Nani bergegas mengambil plastik di tempat yang telah dituduhkan Mamaknya dan menutup rapih baju-baju seragam yang ia letakan diatas meja, Lemari ? jangan tanyakan keberadaannya pada keluarga sederhana ini, langit-langit rumah yang sudah lapuk dan berlubangpun masih belum cukup biaya memperbaikinya. Ketika hujan turun maka masuklah air kedalam rumah berukuran 4m x 4m itu melalui tiga buah lubang sebesar biji kurma, pun ketika matahari begitu terik, maka sebagian sinarnya akan begitu saja masuk kedalam rumah tua milik Mamak.
Sepeninggal suaminya, Mamak begitu prihatin menghidupi ketiga putrinya, terbiasa hidup penuh kekurangan namun tak pernah putus asa, baik kehujanan maupun kepanasan ialah Mamak, Mamak yang tak pernah patah semangat menyekolahkan ketiga putrinya, cita-citanya hanya satu yakni melihat ketiga putrinya mampu sejajar dengan seorang kaya dalam hal pendidikan.
Neli si bungsu yang berusia dua tahun setiap hari digendong-gendong Mamak, tak pernah luput dari perhatian Mamak, meski ratusan jam telah Mamak habiskan dengan peluh yang hampir sama, peluh keikhlasan.
“ Nani, bagaimana sekolahmu ? “ Tanya Mamak sembari merapikan baju-baju diatas meja.
“ Oh ya, Nani belum cerita kepada Mamak, untuk tiga semester ini Nani tidak perlu membayar SPP Mak, Nani mendapat beasiswa di sekolah “ Nani menjawab antusias menghentikan bibirnya ditengah membaca buku sejarah.
“ Benarkah ? “ Kali ini Mamak bertanya lebih antusias
“ Iya benar Mak, jadi nanti Mamak tinggal membayar SPP Nia saja, Nia juga harus bisa mendapat beasiswa seperti kak Nani dong “ Goda Nani kepada anak tengah Mamak, Nia Pertiwi anak kelas lima sekolah dasar itu hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya pertanda siap. Mata Mamak terihat lebih berbinar dari sebelumnya.
“ Mamak Bangga pada kalian anak-anak Mamak “ Kata Mamak, matanya terlihat berkaca-kaca tapi airnya tak sempat menetes dipipi Mamak.
***
Jam sudah menunjukan pukul lima sore, tapi hujan tak jua reda Mamak beberapa kali bangkit dari tempat duduknya melongok hujan dari jendela berbahan kayu jati yang indah, di rumah Bu Lastri setiap hari rabu dan jum’at Mamak selalu di sana mencuci baju-baju keluarga dan membantu menerima order kue, hanya rabu dan jum’at, dihari lainnya Mamak akan berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya untuk menjadi buruh cuci dengan upah yang tak tentu, berapapun pemberian sang empunya baju itulah upah Mamak, itulah pekerjaan Mamak sehingga bisa menghidupi seluruh perempuan di rumah kotak Mamak.
“ Bawa saja payung ini Mak, Mamak pasti cemas dengan anak dirumah bukan “ Kata Bu Lastri sembari menyerahkan payung bermotif bunga-bunga warna biru.
“ Tidak usah Bu, saya sudah banyak merepotkan, kalau boleh saya mau minta plastik saja buat menutupi badan anak saya Bu “  Jawab Mamak
“ Mak, sudahlah tak perlu sungkan, ini payung dari pada tidak terpakai dikeluarga ini mending Mamak bawa pulang saja, kemarin saya juga lihat Nina pulang sekolah hujan-hujanan, kasihan dia, ayo terima saja Mak “ Bu Lastri mencoba meyakinkan Mamak
“ Tapi Bu “ Perkataan Mamak terhenti karena Bu Lastri sudah menggenggamkan payung di tangan Mamak, senyum Mamak merekah hal terindah adalah ketika dua orang bisa tersenyum penuh dengan ketulusan diantara keduanya.
“ Terimakasih banyak bu, maaf saya jadi merepotkan, kemarin memang yang membawa payung hanya Nia, Nani lebih sering mengalah. Nani pasti senang mendapat payung bagus ini dari Bu Lastri. “
“ Lalu Mamak “
“ Saya biasa berbekal plastik saja Bu, sekedar untuk melindungi tubuh bungsu saya “ Jawab Mamak yang kemudian berpamitan pulang.
Baik hujan maupun panas perempuan seperti Mamak dan anak-anaknya bukanlah perempuan yang lemah, kondisi tubuh tuanya masih kokoh melalui waktu berteman peluh, terbiasa kedinginan terbiasa pula kepanasan, Sore tanpa hujan berpandang langit mega merah adalah senja yang amat indah untuk Mamak dan putri-putinya. Selesai sholat Isya Nia dan Neli bergegas tidur, tidurnya tetap nyenyak meski tanpa bed cover seperti yang lainnya, di kasur itulah empat perempuan bermimpi menjemput takdir yang lebih baik, Pagi harinya Mamak selalu membangunkan putri-putrinya untuk menyapa Tuhan, agar semua bisa merasakan arti dari ketenangan dalam penghambaan.
Tuhan,
Hamba tak berhak atas segala, ini raga
Adalah daging-daging pada rimbanya dosa
Sungguh Tuhan,
Ampuni segala lara yang meracuni hati, lalu hina
Menyusup dalam khusyuk
Membungkus aroma do’a di peraduan yang menua
Inilah sebuah pengakuan
Aku !!!! adalah yang berharap nafas, bahagia
Dunia dan syurga

Perempuan-perempuan di rumah Mamak adalah Pertiwi-pertiwi Negri, dengan langit mereka biasa memeluk luka dan cinta dan daripadanya ada ketulusan yang tak bisa diucap kata-kata, meski hatinya separuh, sang empunya rusuk telah meluruh, tapi Perempuan akan selalu bisa tegar meski hidupnya penuh dengan tangisan.

“JARAK”


Aku tahu jarak kita, pria …
Bukan dua atau tiga centi dari pandangan mata terindahmu
Tapi,
Bukankah kau satu-satunya pemilik hatiku, Pria
Maka untuk apalagi kau cemburu
Sementara kau sendiri tahu
Hatiku terpatri atas cintamu
            Hujan bertambah semakin deras, menandingi parau kecemburuan kekasihku dengan suara di ujung handphone yang jelas mulai mengisyaratkan ketidakpercaya-an, hampir-hampir aku tak bisa menahan emosi, kesal atas tuduhan-tuduhannya yang mulai berlebihan sejak dua bulan kita berjauhan.
            Dua bulan berhubungan jarak jauh atau long distance memunculkan istilah “ benci tapi rindu “ Rian memang tak berbeda seperti dulu saat aku belum memutuskan bekerja di daerah yang berbeda dengannya, masih tetap pencemburu akut, terlebih harus berhubungan long distance seperti ini, sudah serupa orang yang kebakaran jenggotlah ketika dalam status media sosialku memuji orang lain, kadang sebal memang dengan sifatnya tapi aku selalu sayang Rian.
            Aku rajin mendengar curhatan dari beberapa teman yang telah menjalani long distance terlebih dulu, disolusikan dengan komunikasi yang lancar, ah aku fikir komunikasi saja tak cukup berhasil untuk menjalani long distance tanpa masalah buktinya Rian, hampir setiap hari tepat pukul delapan malam sepulang kerja ia selalu menelponku, belum lagi komunikasi melalui social media yang begitu banyak dan selalu Rian yang menjadi kontak favoritku, rupanya tak cukup berhasil. Kuncinya adalah kepercayaan pada pasangan.
            Bulan sabit indah menggantung dilangit, menggambarkan seulas senyum kekasihku dan wajah jelek sisa cemburunya, oh Tuhan… bulan sabit inilah yang juga selalu membentuk rindu menjadi begitu syahdu, dan Rian aku benci tapi selalu merindukan hadirmu.
            Malam tanggal lima belas, tepat hari ketujuh puluh lima seperti biasa Rian menelponku namun kali ini bukan pukul delapan, iya kali ini pukul setengah sebelas malam, aku tak sempat berfikiran macam-macam tentang keterlambatannya menelepon, tak berprasangka buruk aku fikir Rian tengah ada kerjaan mendadak hingga tak sempat memberi kabar seharian itu, kuangkat dengan suasana kantuk telepon dari kekasih hatiku itu, kantukku semakin hilang saat kekasih hatiku menjelaskan jika ia sangat tak bisa menjalani hubungan jarak jauh dan menginginkah kisah yang telah terjalin selama dua tahun itu di tamatkan saja, bulir-bulir air mata entah sejak kapan bersarang dipipi. Rupanya keprcayaannya tentang cintaku yang sebenarnya sepenuhnya untuk Rian meski terhalang jarak belum juga Rian miliki, berbeda denganku yang sungguh menjaga hati dan cintaku untuk kekasih hatiku seorang.
            Bulan sabit terasa tak indah lagi, bukan senyum yang tergambar dari hiasan langit itu melainkan murung, rintik hujan menghiasi malam pertama kehidupan tanpa Rian, terasa begitu hambar, aku merindukan segala caranya mencemburuiku tapi jelas aku membenci keputusannya meninggalkanku dengan alasan yang sungguh tak dewasa itu, kini hubungan jarak jauh itu bertambah jauh sejalan dengan hati yang kian merapuh.
Lihatlah,
Bulan begitu ranum
Memprologkan drama cinta dan percaya
Ah, tapi kau masih acuh Pria…
Menonton di balik kerumunan penonton
Hanya menyaksikan tak pernah mendesak bertahan
Aku kecewaku
Kamu kecewaku
Rintik hujan dalam padang kegalauan
Adalah rindu pada dentum bisu
menganaktirikan rasa, membenarkan kecewa
Pria, lain waktu kau akan tahu
Jika jarak adalah nadi kesetiaan
Meski pandang tak saling lekat
Sungguh hati yang mampu tetap berikan ketulusan





Jakarta, 11 April 2014

cerpen



Petuah Mbak Sri
Matahari sudah mengintip dibalik jendela kamar, tapi aku masih dengan selimut tebal terlentang diatas kasur berseprei  biru dengan motif lumba-lumba. Aku terjaga, dengan mata yang masih sembap  kupandangi sebuah bingkai foto yang semenjak kemarin berbalas memandangku juga, semalaman hingga matahari menyembul aku tak jua tertidur, ku habiskan malam mingguku dengan tatapan kosong pada bingkai foto di atas meja kamarku.
Jam sepuluh, tubuhku masih belum beranjak, tak ada orang yang memperdulikanku, aku mematung menunggui jam berputar arah namun percuma.
Kuangkat tubuh lemahku, mencoba membalas intipan mentari, cahayanya dalam sekejap masuk ke sudut-sudut kamarku, mengisi kekosongan setiap ruangan. Aku tak peduli, seperti yang dilakukan semua orang yang tak pernah memperdulikanku, aku berjalan menyiram diri, membersihkan luka-luka di dada, air mataku jatuh bersama siraman ketiga jatuh ditubuhku.
***
Bulan tanggal lima belas terlihat bulat sempurna, sesempurna kebahagiaan yang beberapa menit lalu tercipta. Sri, kakak perempuanku datang membawakan oleh-oleh dan beberapa macam masakan Ibu yang membuatku rindu.
“ Nia, makannya biasa aja deh, semua orang juga tahu masakan Ibu kita memang enak. “ Mbak Sri menggodaku yang terlihat lahap menikmati masakan Ibu.
“ Maklum Mbak, dua hari gak makan .” Jawabku santai
“ Kenapa ? Duit kiriman Ibu habis yah, kenapa gak ngomong. Jangan membuat sakit diri sendiri kamu Ni. “ Sahut Mbak Sri.
Aku hanya menyeringai tanpa menjawab suatu apapun, batinku mulai berdemo, selesai membasuh tangan, kupeluk Mbak Sri.
“ loh loh loh, ada apa ini ? tiba-tiba pelak-peluk, kangen yah, ayo ngaku. “ Mbak Sri menggodaku lagi.
Aku hanya menggeleng, mempererat pelukanku pada Mbak Sri. Tuhan, maafkan atas prasangka ini, ternyata masih ada yang peduli terhadapku, masih ada Ibu, Bapak dan Mbak Sri yang selalu perhatian kepadaku, alangkah buruknya aku Tuhan, aku tak melihat keluargaku yang dengan ketulusannya selalu ada untukku, aku hanya memperhatikan orang yang bukan siapa-siapaku, yang belum jelas menjadi jodohku, teman-temanku tak juga selalu mengerti, maafkan aku Tuhan.
 “ Maafkan aku yah Mbak. “ ucapku sembari masih berpelukan.
“ Loh kenapa ? emang kamu salah apa Nia ? “ Tanya Mbak Sri yang kemudian melepas pelukannya.
“ Nia salah sudah menganggap Ibu, Bapak dan Mbak Sri nggak ada. “ Jawabku lemah, mataku berkaca-kaca mengucapkan kalimat penyesalan itu.
“ Maksudmu ? “ Tanya Mbak Sri Lagi.
“ Selama ini Nia enggak pernah membalas perhatian dari Ibu, Bapak dan Mbak Sri, Nia justru lebih peduli terhadap orang lain, Nia palah peduli terhadap Reno yang hanya bisa menyakiti hati Nia, Nia palah mementingkan kebersamaan bersama teman-teman Nia daripada pulang dan menikmati kebersamaan bersama kalian, maafkan Nia Mbak. “ aku menjelaskan dengan serbuan penyesalan.
Mbak Sri tak menjawab, tetapi justru memandangku lekat, ku teruskan ceritaku.
 “ Reno Mbak, lelaki yang sempat ku kenalkan kepada Mbak Sri ternyata sudah mempunyai kekasih terlebih dulu sebelum aku, Mbak Sri bisa bayangkan bagaimana perasaan kekasihnya itu jika mengetahui hubungan ini, aku ini wanita Mbak, aku jelas tahu rasanya sakit karena diduakan, aku mencintai Reno Mbak tapi aku juga enggak bisa membuat orang lain tersakiti atas hubungan ini, terlebih dialah yang pertama menjadi kekasih Reno. Sementara aku, aku hanya selingkuhan meski aku tak tahu sebelumnya, dua hari lalu aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Reno, meski masih teramat mencintainya, aku tak bisa melupakan Reno Mbak, tapi aku juga tak mungkin merebut kebahagiaan wanita lain kekasih Reno itu, urusannya semakin rumit ketika aku menceritakan keputusanku kepada teman-temanku, bukan dukungan justru cacian yang Nia terima dari teman-teman Nia Mbak, kata mereka Nia bodoh melepaskan Reno, apa iya Nia sesalah itu Mbak ? Nia semakin enggak ngerti sama teman-teman Nia yang sekarang, dia menjauhi Nia, dia mengacuhkan Nia Mbak, Nia bingung Mbak. Kemarin Nia enggak tidur semalaman, Nia benci kehidupan ini, kenapa Nia yang selalu harus disakiti, Nia sudah ngerelain Reno karena Nia tak mau ada orang lain tersakiti tetapi kini Nia yang tersakiti Mbak, karena perasaan yang masih dalam terhadap Reno dan karena perlakuan teman-teman Nia, Kemarin hingga Maghrib tadi pun Nia fikir tak ada seorangpun yang peduli terhadap Nia, tapi Nia salah, Nia masih punya Ibu, Bapak dan Mbak Sri yang selalu ada buat Nia, maafkan Nia Mbak. “
Mbak Sri tersenyum.
“ Nia hidup itu pilihan, disetiap pilihan akan ada jalan, yang kamu harus tahu kebahagiaan itu selalu ada dikehidupan dan dijalan yang telah kita pilih, asalkan hatimu lurus dengan selalu bersyukur terhadap apa yang telah ada dijalanmu, tak ada yang perlu disesali. Keputusanmu atas Reno itulah Jalanmu, Yakinlah akan ada kebahagiaan lain dari jalan yang lain dan bukan dari Reno meski seribu orang mencacimu, sejuta orang mengasingkanmu, dan semilyar orang tak memperdulikanmu, lihatlah lagi kehatimu disana ada Ibu, Bapak dan Mbak Sri yang telah digariskan Tuhan untuk menjadi salah satu dari kebahagiaanmu,kamu tentu tahu istilah teman sejati yang ada disetiap suka dan duka, angka untuk teman sejati itu tidak lebih dari 15% didunia, ini versi Mbak Sri ( Tersenyum ), kamu tak usah takut kehilangan teman-temanmu, tetaplah menjadi Nia yang baik hati dan tulus dalam kehidupan, tetaplah berbaik hati pula kepada teman-teman yang telah mengacuhkanmu karena itulah satu-satunya cara kita membahagiakan hati kita, kita mungkin sesekali akan dongkol tapi kebahagiaan hati itu letaknya karena kebaikan dan ketulusan, jangan kotori dan membuat hatimu bersedih karena balas mengacuhkan mereka, jadilah Nia yang tulus. “
Aku mengangguk, mencoba memahami setiap perkataan Mbak Sri. Jadilah malam itu terlewatkan dengan petuah-petuah Mbak Sri, aku bangga padanya dialah yang mengajarkanku arti ketulusan dan Ibu beserta Bapaklah yang mengalirkan darah ketulusan itu kepada kami.
Kali ini tidurku nyenyak.

Cerpen



Atas Nama Setia, Kembalilah Cinta
“ Cinta, tinggalah sejenak … jangan biarkan waktu merenggut pertemuan kita yang sebentar, menjadikannya lamat-lamat hanya memanggil namamu dibalik do’a setiap tahajudku, kau pun pasti merindukan kebersamaan ini, aku mohon jangan lekas pergi.”  Aku menatap bola mata yang berbinar terang itu, mengingat sekali lagi ejaan-ejaan huruf dari bibirnya beberapa detik lalu, ah benarkah ucapmu ? Aku masih mematung sementara hati dan jiwaku sudah tak peduli lagi dengan rotasi dan revolusi bumi ini.
Dunia berhenti, detikan jam sudah tak terdengar lagi, hanya ada suara cicit-cicit semut yang mendendangkan syair perpisahan. Sekujur tubuhku semakin kelu, memandangi sosok yang tengah menarik-narik tanganku dengan raut kesedihan di sepanjang garis wajahnya.
Aku memutuskan untuk duduk sebentar, mengikuti keinginan separuh jiwaku.
“ lantas, kau masih akan pergi meninggalkanku ? “ ucapnya menjadikan waktu berputar seperti biasa.
Aku hanya tertunduk, mengangguk.
“ tapi aku masih ingin kau disini, temani aku untuk beberapa hari saja, aku janji akan kuceritakan kau cerita tentang Cinderella atau rama dan shinta.” Lelaki separuh hatiku itu memohon dengan air muka tak bersemangat.
Aku masih diam, tak berucap.
“ aku merindukanmu, aku akan selalu merindukanmu, sekarang kau pergilah, biarkan separuh hatimu ini menunggu untuk kesekian kalinya. “ lelaki berwajah sendu itu perlahan melepaskan pegangan eratnya di tanganku. Aku berdiri, tatapanku masih berfokus pada separuh hatiku. Ia hanya mengangguk memahami kepergianku. Aku dilepas dengan air muka kesedihan lelaki itu, air muka yang penuh cinta dan ketulusan, didalamnya ada hati dengan kepercayaan yang indah yang selalu bermuara di setiap sujud pemiliknya.
***
Aku sampai disebuah pondok kecil, melanjutkan tugasku sebagai Guru. Ah, terlalu mashur disebut seorang Guru, aku hanya seorang pembagi ilmu yang sedikit karena aku tak punya ijazah pendidikan untuk disebut seorang guru. Aku hanya membagi ilmuku yang sedikit itu di sebuah desa terpencil di Bangka Belitung.
Awalnya aku diajak seorang rekan mengunjungi kemolekan Bangka Belitung, dua minggu disana cukup bagiku menyelami kehidupan Belitung. Bukan, bukan di sebuah kota indah dengan segudang kreatifitas, namun di sebuah desa terpencil yang kehidupannya amat memilukan.
Bagaimana dengan kekasih hatiku, separuh jiwaku yang kutinggalkan demi kehidupan dan jalan yang telah kupilih untuk hidupku ini, rupanya ia seorang yang berhati besar, berhati mulia dan berhati layaknya manusia power untukku. Satu dua kali ia mengeluh berada jauh dariku namun ia sendirilah yang membimbing hatinya untuk teguh dan tegar meski hari-harinya tak dihiasi canda tawaku, ah kau terlalu budiman lelakiku.
Tuhan, sampai nanti kau buat aku halal baginya, maka sepanjang hayatku akan ku abdikan diriku untuk lelaki itu. Lelaki yang dengan izinmu menjadi jodohku.
Arry, Ia tak pernah lelah menungguku berhari-hari, berbulan-bulan hingga tahun berganti, aku tak mengerti apa yang ia lakukan tak melebihi batas untuk seorang manusia yang menanti, satu kalimat yang juga membimbing hatiku untuk memilih lelaki itu menjadi imamku dengan tidak berbuat macam-macam di pulau orang adalah hanya kalimat arry, kalimat yang membuat seluruh tubuh bergetar “ telah ku temukan kau dalam istiharahku. “ ucapnya sepuluh Muharram empat tahun silam.
***
Arry, dialah kekasih hatiku, separuh jiwaku yang tak pernah terganti sejak pertemuan malam itu di sebuah acara Tabligh Akbar, aku terpesona dengan moderator di acara tersebut yakni Arry. Ya, dia yang namanya selalu dihati.
Setahun setengah lagi aku berada di Belitung, Ibu dan Bapakku sudah terlalu ringkih untuk selalu ku tinggalkan, atas permintaan merekalah setahun setengah terakhir itu ku abdikan diriku buat bocah-bocah Belitung. Rasanya akan banyak kenangan, akan banyak pelajaran dan kebahagiaan yang tertinggal di Belitung. Setahun setengah berlalu begitu cepat, secepat datangnya Muharram, aku tersipu malu.
Tepat dihari ketiga sebelum kepulanganku  menjemput keluargaku dan Arry, anak-anak Belitung yang biasa ku ajari membaca, berhitung dan bernyanyi beranjangsana ke pondokku, kupandangi wajah anak-anak itu, ada seukir bahagia dan sedih yang bercampur membentuk wajah-wajah mereka semakin terlihat lucu dengan aksen kekanak-kanakannya, salah satu tangan mereka membawa plastik hitam yang berisi kempelang atau jajanan kerupuk Bangka, salah satu yang lain membawa dodol khas Bangka, aku tersenyum memandangi sekali lagi anak-anak didepanku. Perasaan yang sama ketika aku harus meninggalkan Arry ke Bangka, hanya ada cicit-cicit semut yang mendendangkan syair perpisahan.
Aku meninggalkan daerah itu, diantar dengan suara tangis anak-anak yang dengan sesenggukan sembari memeluk ibunya. Dengan sekuat tenaga ku tahan air mata yang sudah mengetuk mataku memaksa ingin keluar, tapi yang selalu ku ajarkan kepada anak-anak itu adalah jangan menangis dan jangan menangis,  jadilah aku harus seperti yang kuucapkan kepada anak-anak itu meski sepertinya ucapanku tak mereka dengar karena yang kulihat kini mereka justru menangis, aku tersenyum meninggalkan mereka, mereka melambai-lambaikan tangannya, dadah.
“ Anne tunggu ibu kembali. “ teriak salah satu gadis kecil dengan linangan air yang masih di pipinya.
Aku menangguk dari kejauhan, berdadah lagi. Satu dua bulir air mataku jatuh tanpa mereka tahu, karena aku yakin saat ini mereka hanya bisa memandangi punggunggku.
***
Aku kembali menikmati aroma pagi di kampung halamanku, masih asri seperti satu setengah tahun lalu aku kembali. Ada seonggok rasa yang menyundul-nyundul dinding hatiku, ya aku rindu Arry.
Matahari sudah tak malu-malu lagi menyapa bumi, sinarnya begitu merona menyilaukan pandangan mata, aku bergegas ingin menemui Arry. Seperti yang selalu ia ceritakan saat-saat terik seperti ini pasti ia tengah menjaga toko keluarganya ditemani secangkir kopi dan bacaan-bacaan islami. Aku tersenyum-senyum membayangkan  kekagetan Arry melihatku dihadapnya.
Aku berpamitan kepada ibu untuk mengunjungi Arry setelah mengenakan Jilbab Biru kembang-kembang favoritku, tapi ibu mencegahnya. Kenapa Bu ? aku masih tak mengerti, berusaha membujuk Ibu mengijinkanku, karena bertahun-tahun dengan Arry Ibu selalu mengerti karena meyakini Arry mampu menjagaku. Aku kecewa dengan Ibu.
Aku hanya diam seharian itu, mematung tak bergairah, aku merindukan Arry.
“ Kenapa Nak ? kau pasti merindukan Belitung yah ?” Tanya Ibu sembari membawakan makanan ringan dan duduk disampingku.
Aku tersenyum, menjawab lembut  “ Iya, salah satunya. “ aku percaya Ibu mengetahui maksud jawabanku.
“ Jangan ganggu Arry lagi Nak, Ahad depan dia akan dinikahkan dengan anak Pak Mansyur. “ Ibu berkata pelan, takut-takut aku kecewa dan marah.
Aku jelas kecewa tapi aku tak bisa marah dengan Ibu, setelah mendengar cerita Ibu tentang Arry yang akan dinikahkan dengan anak gadis Pak Mansyur aku kembali ke kamar memeluk gulingku, dan kali ini aku tak bisa menahan ketukan air mata dipintu mataku, aku menangis.
Arry belahan jiwaku, kenapa dengan takdir kesetiaan kita ? tak ada yang salah bukan jika kita memilih setia, tapi kenapa dengan takdir ini ? Tuhan, maafkan aku yang tak bisa menerima jalanmu, hatiku semakin sesak mengingat Arry, mengingat ucapan-ucapan Arry, mengingat kesetiaan kita berdua. Arry jika begini jalannya, kau pasti salah beristiharah, kau pasti tak pernah menemukan wajahku dalam istiharahmu, kau pasti …. Aku menangis menahan perih.
Arry dinikahkan dengan anak gadis Pak Mansyur, rekan kerja Bapaknya. Anak gadis Pak Mansyur terkenal binal dan sering keluar malam, hingga akhirnya Ranti, nama gadis itu hamil diluar nikah. Pak Mansyur dengan menangis sesenggukan meminta Arry untuk dinikahkan dengan Ranti, awalnya Bapak Arry menolak, tapi tak kuasa melihat kesedihan Pak Mansyur akhirnya menyetujui rencana itu. Arry diyakini mampu membimbing Ranti karena itulah Bapak Arry merelakan bujangnya memperistri Gadis Nakal itu. Arry menolak atas rencana itu karena Arry masih memegang teguh kesetiaannya terhadapku, Rahma. Tetapi setiap hari Bapaknya menasihati anak bujang yang diperintahkan memperistri Ranti itu, dan mengatakan Rahma akan merelakan Arry karena itu semua termasuk ibadah, ibadah karena tak menolak keinginan Bapak, Ibadah karena nikah, dan ibadah karena membimbing Ranti kelak, dengan berat hati Arry menyetujui pernikahan itu, Arry memang terlalu budiman tak berani ia melawan perintah kedua orang tuanya, apalagi ketika telah dikhotbahi.
***
Separuh hati dan jiwaku kosong, tak ada lagi Arry namun namanya abadi. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan ku jalani dengan hati yang semakin rapuh, puluhan kali ibu menjodohkanku dengan berbagai macam karakter bujang aku masih tak mau, enggan dan belum mampu menggantikan sosok Arry, enam tahun bersama Arry dan kesetiaan kita bukan hal yang mudah dibuang begitu saja.
Anak pertama Ranti dari hasil hubungan gelapnya lahir kedunia, kusempatkan membesarkan hati menjenguk bayi cantiknya. Masih kulihat tatapan yang sama dari Arry, tatapan kesetiaan itu, tak sengaja mata kami bertemu, kali ini bukan aku yang menangis namun kulihat Arry beberapa kali menjatuhkan bulir air mata dipipinya sebelum ia pamit ke toilet.
Bayi cantik meraka ternyata hanya bertahan 4 bulan di dunia ini, bayi cantik itu sakit dan tak tertolong lagi. Aku sekali lagi berduka. Kupandangi wajah Ranti, matanya sembap karena tak berhenti menangis, ku peluk istri belahan jiwaku itu, ia membalas erat memelukku sembari sesenggukan. Mata Arry terlihat sembap habis menangis pula.
Tiga Tahun setelah kepergian bayi cantik itu kudengar kabar bahagia keluarga Arry, Ranti mengandung.
Sembilan bulannya kudengar Ranti dilarikan kerumah sakit akan melahirkan, Naas, Ranti dan Bayinya tak tertolong, kondisi ranti teramat lemah, keduanya dikebumikan. Aku tak sempat mengunjungi rumah duka saat itu, karena aku berada di Bogor di daerah saudaraku. Semenjak Arry menikah kesendirianku ku gunakan untuk pergi kasana-kamari, mengajari ngaji anak-anak kampung kelahiranku, membangun rumah baca, membuat perkumpulan seni bersama anak-anak sekolah pertama, menjadi guru les matematika, membantu ibu di kebun singkong, dan siap sedia mengantarkan bapak yang tak bisa menggunakan sepeda motor.
Hari ketiga aku menghadiri acara Tahlilan untuk Ranti dan jabang bayi yang tak sempat menikmati keindahan dunia, kutatap wajah Arry, kesedihan yang sama seperti saat ia melepaskanku ke Belitung nampak terlihat begitu jelas, mulutnya masih komat-kamit membacakan doa untuk istrinya, tak menyadari kehadiranku.
Setahun setelah kejadian menyayat hati itu aku jelas tak tahu lagi kabar separuh jiwaku. Arry, Ia pasti amat terpukul atas kejadian itu, sedang apa kau Arry ? sesungguhnya aku masih setia untukmu.
***
Pertemuan itu terjadi saat acara Khitanan keponakanku, Lelaki itu dengan senyum mengembang menyapa kami, Lelaki berstatus Duda itu masih berkharisma seperti tujuh tahun silam, ada yang berbeda dari raut wajahnya, sinar kebapak-bapakan itu telah ada, tak seperti dulu lagi yang amat gemar menggodaku diujung telepon hingga aku tertawa terkekeh-kekeh, kali ini berbeda, lelaki belahan jiwaku itu terlihat amat dewasa mengenakan kemeja batik dengan celana hitam.
Tiga bulan setelah pertemuan itu, kami memutuskan menikah. Menyatakan ikrar setia. Oh, Tuhan… betapa sempurna kebahagiaan ini meski aku harus menunggu sampai kebahagiaan itu benar-benar menjemput dengan izinMu.
Arry, dan beginilah sesungguhnya takdir kita. Kesetiaan dan keikhlasan akan bersatu pula, Tuhan menggantikan kesetiaanmu atasku dengan kesetiaanku atasmu, jikalau pada garisnya kau tetap bersama Ranti, pastilah Tuhan juga membuat hati dan fikirku melupakan tentangmu, tapi tak bisa Arry, sampai detik ini aku selalu merindukan kebersamaan kita, aku mencintaimu Arry, maka sepanjang hayatku akan ku abdikan diriku untuk Kau lelakiku. Lelaki yang dengan izinNya menjadi jodohku.

>_<      Sekian     >_<