Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Bahasa, Rasa, Asa

 
Kau meninggalkan jejak selepas hujan, yang tak pudar
Dalam renungan yang biasa disebut rindu diam-diam terpatri, namamu
Adalah alarm cinta dari senja ke senja
Cukup; aku mencintaimu dalam bahasa
Yang mungkin sulit kau fahami. 

Arlojiku sudah nampak berbusa juga, pintu tak jua terbuka

Sesekali aku ingin berlari dan menari bersama keindahan yang lain
Selalu gagal, selalu tahu arah pulang; Kepadamu ...
Aku benci namun tekanan cinta selalu lebih cepat mendarat diotakku
Entah kewarasan sebelah mana yang kupunya, aku lupa.

Jakarta, 24 Juni 2015





Coba kau jadi aku

Coba kau jadi aku
Kau akan merasakan bagaimana lukamu terasing dilautan
Kau akan paham muaknya hidup dalam penantian
Terlebih
Sekedar menggenggam angin
Lalu menguap lagi menjadi hening.

KEPADAMU


Kepada Angin,
Ada dengusan yang tak sempat terekam mega
Dalam bingar yang menjadikannya srigala
Maka aumannya adalah musibah bagi rakyat jelata

Kepada Air,
Jika tangismu semakin menderu
Barangkali botol dan ember kecilku tak mampu lagi menampung
Lalu, celanaku akan kau buat terkatung

Kepada Api,
Tersimpan gerilya dendam kesumat
Meluruhkan penat menjadikannya hangat
Ada yang tak lebih membahagiakan
Dari sekedar kehilangan

Kepada Tuhan,
Pemangku hati
Disinilah do’aku pekat
Merengkuh mukjizat dengan khidmat
Padamu Maha Penyelamat, dunia akherat


Jakarta, 6 Mei 2014

Adalah

Ada yang indah selalu tentangmu
Tentang malam empat belas februari
Dan cinta yang membuncah dihati
Tentangmu, yang kuceritakan pada malam
Yang tenang, aku tersipu
Yang semakin kelam, aku menunggu

Namun beku ....

Sampai pada waktu kau memupus sendiri, tak mengerti
Kernyitan dahiku yang tak sempat kau peduli masih setulusnya mencintai
Meski hati dan sosokmu menjauh pergi

Malam, bulan tanggal lima belas
Tak kutemukan sosokmu dalam remang cahaya bintang
Kucari
Kucari
Kucari
Kutemukan hatimu telah terpatri
Pada sosok lain, bukan aku

Biarlah,
Hujan 'kan menghapus bayang yang dilukis pada kanvas kasih sayang
Dan senja akan membawa ingatanku ke bui, melupakan

Tentangmu dan malam empat belas februari adalah mimpi
Adalah sunyi
Adalah sepi
Adalah mati

Adalah LIRIH

OGUT


Kali ini aku yang akan memelukmu lebih erat
mengukir aksara dari kelakar pelangi tujuh warna
bersajak tentangku, tentangmu
dari balik kelambu duri
yang dicaci


Bahwa cinta akan selalu seperti ini, Ogut
Kangen yang membuncah disepanjang hujan
Pun kemarau, merengek membentuk jalan abstrak
Menuju Ksatria berkuda pembawa sebait sajak


Ogut, ia mengerti
Dua puluh bahkan ratusan orang tak memberi restu
Sebab cinta menerjemahkan rasa
yang tak mereka punya


Ogut diam dan tetap mencintaimu, sayang
jemari malam yang mencakar atap kamarnya lelah sendiri
Pergi pada yang tak tau arti, menanti.



Jakarta, April 2015  

KEPADA ABANG

Yang hujannya turun dari langit dan puncak gunung-gunung, dibangun dengan sekuat ketulusan menyerupai angsa didanau
malam ini, kulihat raut wajah berkerut makin pilu
dengan segudang bimbang yang kau sembunyikan dilemari
abang masih pandai bercerita, tentang mimpi dan ideologi
laksana petir menyambar menghempaskan ribuan listrik dari ketajaman matamu, abang
datang memborgol diri 
Ia berkisah : sebab cinta adalah ironi

Sabar abang,
cinta selalu mengerti jalan
cinta selalu memahami keadaan
cinta selalu memaafkan


Sekarang abang diam
menatap langit lebih kejam
seumpama ada harapan
ia ingin perdamaian
Katanya !!!!

2015

Hujan

Kita pernah berbicara pada hujan, tentang asa yang menyerupai pelangi
tentang kedua bola mata kita yang menggelinding sunyi pada sunyi

Kita pernah sama-sama memeluk hujan, ia jatuh dimata kita; dalam pandang yang tak lagi kenal

saat itu, hanya ada sesak air mata yang bersahutan

Aku tahu :
Hujan adalah kerinduan, Itu saja

Kita mengalir bersama hujan

ada setelah kemarau dan dahaga melilit perasaan kita
bukan aku hujanmu, bukan kamu hujanku kenyataannya
kita adalah arus hujan, berpisah dipersimpangan

berjalan sendiri
menangis sendiri

Hujan adalah kerinduan kita
dan kita bukan lagi tetes pada hujan yang sama

1 Desember 2014


Taman ( Curahan Hari Guru )

Aku tak punya cukup uang untuk membelikanmu sepohon mawar Pak, Buk.

Hujan akhir-akhir ini semakin deras, bagaimana pula aku keluar rumah

Sementara payung satu-satunya tengah dipakai adikku

Pak, Buk

Kau jua pasti bosan menghirup-hirup aroma mawar, bukan ?

Aku sudah belajar Pak, Buk

Selama sembilan belas tahun usiaku
aku baru tahu rahasiamu

" Kau tak pernah menginginkan setangkai mawar "


November, dua lima

Pekaranganmu dipenuhi cinta

Eureka .....

Hujan menyiram segala, biar mekar
biar membakar

Lagipula, kini aku tahu arah telapak kakimu Pak, Buk

hahahaa...
rupanya aku harus cukup bebal untuk mengerti semua ini
bahwa mimpimu adalah hanya tentang taman
entah itu mawar, melati, cempaka, soka, lili hingga sakura didalamnya
tentangmu adalah tentang pertumbuhan dan perkembangan
seperti yang ditemukan di biologi


ah, kesembilan belas tahun

aku masih tak cukup uang untuk membelikanmu sepohon mawar Pak, Buk
Do'a saja semoga tamanmu indah
dan hidupmu berkah

sesekali,

mungkin nanti; aku ingin semempesona canna di victoria dalam tamanmu
Pak, Buk
Selamat Hari Guru .....

Cinta dan secangkir kopi

Apa kau bosan membicarakan ini ?
aku juga mungkin akan berkata "Ya"
secangkir kopi yang diseduh dalam suasana dingin
sudah dingin pula
sisa aroma legitnya masih terasa dilidah
Oh, ya !!!!
mungkinkah cinta serupa secangkir kopi ?
Kepulan asap dipadu aroma pahit dan manis yang menyatu
selalu terasa nikmat
Tidak, tidak, tidak selalu demikian
dingin yang menguap didinding gelas kopi
selalu mengecualikan kenikmatannya
sentuhan waktu yang menjadikan segala beku

ini cinta secangkir kopi

beda masa beda rasa

cinta serupa secangkir kopi itu mudah

mudah jatuh cinta
mudah mendua
mudah berlama-lama mengendapkan dingin menjadi bilur-bilur rindu

Ku kasih tahu kau :


Hey, secangkir kopi panas lebih nikmat loh...


seruput saja, jangan sampai dingin

dan jangan biarkan dingin

Karena secangkir kopi panas juga adalah cinta

yang mengajari kita bahwa kebekuan adalah hampa
sedang cinta dan kebekuan
bak berjalan bersama dalam dua garis sejajar menuju dua titik
kau tak akan pernah bertemu bukan ?

cinta secangkir kopi panas

Iya, itulah cinta
pada cinta.

23 November 2014

Karena Selasa telah ada

Untuk selasa,
Dimana nyawa-nyawa berpagut membelai-belai doa
Aku baru berhenti menangis hari ini
Dan menidurkan mimpi-mimpi

Bulan semalam merongrong masuk kedada
Semakin dalam, semakin hilang
Semalam hujan

Aku tidak dengan secangkir teh atau segelas susu
Malam tambah pilu
Namun kali ini, Selasa

Derita sudah sirna
Meluntur sendiri, membentuk trilogi
Untuk selasa,
Dimana daun-daun  kuning berjatuhan
Hingga do’a sampai pada Tuhan
Aku hanya ingin berdiri bersama Tabah
Biar gigil pergi sendiri karena lelah.


14 Oktober 2014

gombal


Bagaimana aku bisa bahagia
sebab bahagiaku ada padamu
sementara kau jauh, mengukir batas-batas diatas dan dibawah lautan
Bagaimana juga tidurku bisa senyenyak ketika sebelumnya kau puisikan cinta
malam semakin membuatku pengap
aku tak bisa bebas bernafas, tanpamu
Romeo, aku tak percaya jika cinderella yang Tuhan jodohkan untukmu bukan aku
ini mungkin sedikit binal, sebab cinta selalu lebih dari yang direvolusikan semesta
Api padam dibanjiri air
Taman indah berhias bunga
akulah setitik air yang berada di kuncup bungamu, dan membiarkan kesejukan menyapa kita
Romeo,
Hal yang paling indah adalah ketika kita lupa bahwa jam satu telah berada di angka sembilan dan jam dua belas berubah menjadi dua puluh dua.
ini memang penantian yang menyebalkan
menghitung butir-butir pasir dipantai, sendirian
melawan satu dua ribu cacian
namun, satu !!!
hanya satu, kau adalah pelangi saat aku lupa akan warna-warna
kau adalah denting jam yang hidup dalam palung sanubari
ini sedikit lebay memang romeo
namun mereka akan mengerti, orang jatuh cinta akan mengerti.
cepat pulang dan kembali yah.....

Laki-laki dan ceruk matanya



Aku tersipu mendapati pelangi menyorot dari ceruk matamu
Bukan kali pertama, terpandang jua
Aku mungkin tak mudah membiarkan langit menghamparkan awan tanpa cinta
Sesungguhnya : mata ialah laki-laki

Dipasir-pasir putih dan laut yang jauh
Laki-laki berjalan menantang ombak
Adalah matanya yang memandangku dalam remang bayang yang dihancurkan gelombang
Aku tambah tersipu, Syahdu

Laki-laki bicara padaku
                “ aku mencintaimu “

Maka aku jawab padanya
                “ Laki-laki sama,
                Sekarang lihat aku, dan buang matamu”


Ia tertunduk, Pilu. 

22 Juli 2014

SAJAK BUAT PERTIWI


Aku perempuan,
Tidak binal pun tidak tahu apa-apa
Semanis gula senyumku
Dihisap sembilu, mengecup haru
Pada pualam yang remang
Orang-orang memanggilku “ Pertiwi “

Diatas tanah gembur
Aku meluruh menjadi Negara makmur
Dicintai dan melukis mashur
Seperti kilatan pelangi
Seindah namaku, Pertiwi

Aku ingin tetap elok
Tanpa dosa-dosa kurcaci, pemakan bumi ; menjadikanku mati
Tanpa korupsi
Dan tanpa api
Aku ingin tetap cantik
Biar mata lelaki memandangku tertarik
Mengenakan batik
Dan bahasa yang apik                     

Aku perempuan,
Tidak binal pun tidak tahu apa-apa
Ingin tetap merdeka


( 2 Mei 2014 )

SAJAK TERKANTUK


Aku tengah duduk manis di kantor
Menikmati semilir AC di ruangan
Pukul dua, semangatku mulai kendor
Mataku sedikit menyipit
Kantukku mulai menjerit

Aku bangkit ; melepas kacamata dan ego yang bersarang di dada
Melihat keluar, ke jalan-jalan
Masih banyak pengemis di trotoar
Meminta fee dari pajak-pajak 
Orang hebat ; itu mimpi kami

Ku pakai lagi kacamataku
Biar mata empat, aku masih tetap selamat
Bisa membaca
Bisa berhitung
Bisa melihat keadilan-keadilan
Dan berita pencucian uang

Aku duduk kembali dikursi; bukan goyang
Kursi staf-staf yang masih menuntut belas kasihan
Pada langit,
Itulah suara demokrasi kami, bukan pegawai negri
Atau penghuni kursi dewan
Tapi turut berpuisi

Membenci para tukang korupsi

( Jakarta, 2 Mei 2014 )

Tentang

Kurnia,
Ialah sebab luka menganga
Mengimajinasikan lara yang belum ada
Sebab cinta tak melupakan dukanya
Kurnia,
Sekarang aku mesti lebih pandai mencintai
Yang menerima
Yang setia
Dan tidak pura-pura
Kurnia
Cukup juniku yang kau iris sembilu
Jangan bunga lain yang tengah mekar mencintaimu
Kurnia
Terimakasih …. Sebab cinta membuka mata
Ialah keagungan tiada tara
Yang datang akan hilang
Yang pergi akan mati
Biar cinta berjalan sendiri
Seperti Ari, Dihati…..

Hahahahahha…..

Untuk Priaku

Untuk priaku, kenapa pertemuan kita selalu terlalu singkat
Sedang aku masih ingin memandangmu lekat
Aku mencintaimu, priaku
Mencintaimu sungguh mencintaimu

Untuk priaku,
Jika hanya shubuh yang mengerti perasaan kita
Maukah kau membicarakan pada maghrib,isya,dzuhur dan asharmu
Agar kita bisa merangkul waktu
Sungguh, hanya bersamamu aku mampu melihat syurga

Untuk priaku,
Biar kali ini kau dan aku saling bisu
Mengacuhkan bulir-bulir rasa yang sebenarnya menggebu
Karna aku mencintaimu

Untuk priaku,
Aku masih cukup rapuh berbicara pada Tuhan
Bantu aku priaku, bantu
Berjalanlah dengan cinta padaku
Tuntun aku melihat syurgaNya
Karna aku yakin hanya kau yang bisa
Aku mencintaimu, priaku
Kekasihku
421

Sajak : Kenapa Kita masih tak saling mengerti

Lebih dari apapun,

Tentang sejuknya sukma dalam balutan hijaunya dedaunan, yang merongrong membelah mimpi

Pun mentari mungkin akan lebih cepat datang menjemput kita

Mengamati inci demi inci mata kita, seperti kita yang memandang jauh pohon-pohon teh dan lembah

Kita memandang tanpa saling mengerti

Sibuk memanjakan mata dengan hijau yang membentang di sehampar perasaan

Akan lebih dipedulikan alam jika kita menengok kebelakang, sebenarnya

Bukan menyesali, namun menghargai prolog hati

Apakah harus kusudahkan kala mega merah menghampiri ?

Daun-daun akan tetap hijau esok pagi, namun mungkin ada banyak yang sudah ditiduri mimpi yang terlampau basi

Ah, peduli apa aku

Enyahkan saja karena masih ada daun lain yang bingarnya menimang-nimang mata

Cabut saja itu, cabut saja yang mati

Hingga kita mengerti

Kita tak akan pernah tahu kapan kita pergi meninggalkan epilog cerita Illahi.


2014

Sajak : Aku Bertanya

Menurutmu bagaimana ?
Aku melangkah ke jurang
Atau mundur ke jurang
Atau diam ?
Atau menurutmu aku harus terbang ?
Tapi aku tak punya sayap dan sedikit ketegaan terhadapmu

Menurutmu bagaimana ?
Memakai rok mini atau celana mini ?
Tapi aku tidak terlalu cukup mini untuk itu, lalu bagaimana ?
Bagaimana tentang cinta, menurutmu bagaimana ?

2014

Aku Ngantuk Sekali

Aku ngantuk sekali,
Barangkali ada yang merelakan bantal empuknya ku pinjam
Untuk sesaat saja, sampai aku punya rumah dan mobil mewah
Aku ngantuk sekali,
Mataku yang tanpa kaca juga tanpa pura-pura
Berkerlip pasrah
Barangkali enak, tidur
Persetan dengan urusan negri
Segala yang indah hanya milik Tuan saja

Aku menulis ini pun tengah terkantuk-kantuk
Sudah penuh sesak jua dadaku oleh batuk sang empunya uang
Urus saja, urus saja negri ini
Bedebah masih akan hidup seribu lima ratus turunan kedepan
Atau kau mau ikut aku tertidur ?
Mengumpat dibalik punggung selimut yang hangat
Oleh do’a dan air mata.
2014



Lentera

Padanan warna pelangi elok sekali, mencairkan beberapa keping lara yang beku
Kemudian, aku lupa menyalakan waktu mematikan cinta di pagar sembilu
Harus bagaimana ? aku harus bagaimana ?
Aku sudah tak mampu melihat kau disana, semua tertutup pilu
Dan kembali ragu padamu.

Bangau kini tak putih bersih lagi, ada bercak darah
Menyambung dari mata ke dada
Awan bertanya padaku dimana Lentera ?
Aku bertanya padanya pula, dimana Lentera ?

Kami sempat menangis sesenggukan sebelum malam pukul dua belas, sebelum lonceng berbunyi dan sebelum ajal mendekati
Mungkin, kau adalah penyebab segalanya
Ya, tentu bukan cinta
Kali ini aku akan melupakan dan berdo’a lagi pada Tuhan
Bahwa Lentera akan pulang kesini, ke dadaku.

2014